|
Saturday, October 16, 2010 Google and Haskell One guy from Google presented something at ICFP10 about haskell usage in production system. Take a look at their paper.Wednesday, September 08, 2010 Numb3r
Monday, June 21, 2010 What's the difference
Greeneries
Sunday, June 13, 2010 Camera Test
Monday, December 17, 2007 Cinta Membuat ...Cinta.. Membuatku tiba-tiba ingin membuat tulisan ini begitu terbangun dari tidurku... Membuat banyak hal-hal kecil yang ada di dunia ini menjadi indah... Membuatku sering tertawa dan tersenyum sendiri... Membuat sifat kekanakanku muncul dengan sendirinya, tanpa beban, tanpa takut... Membuatku merasa kasihan pada manusia lain, karena mereka cuma bisa numpang di dunia yang sudah menjadi milik kami ini... Membuatku nggak bisa menilai perempuan lain secara obyektif, karena udah pasti dialah yang terbaik di mata dan hatiku... Membuat teman-temanku cemburu padanya, karena alokasi waktuku untuk mereka jadi berkurang... Membuat aku ngantor jam 4 sore gara-gara menulis ini dan mengacuhkan panggilan pak kosku yang teriak-teriak nanyain aku udah bangun atau belum... Membuatku bertanya, dia sedang melakukan apa sekarang, udah makan atau belum... Membuat laba Mobile-8 bertambah... Membuatku malu... Mambuatku jadi tambah malu waktu dia bilang dia juga malu... Membuatku ketawa sendiri waktu menulis dua baris di atas... Membuatku sadar, bahwa cinta itu terlalu indah untuk ditutup-tutupi... Membuatku berani membuka bagian hati yang tertutup selama ini... Membuat harga diriku yang sudah tidak ada sebelumnya, menjadi minus... Membuat rasa sayang mengalir dengan derasnya, tanpa ragu, tanpa takut melukai... Membuatku jadi tahu, bahwa banyak hal yang bekerja secara misterius di dunia ini... Membuatku tambah yakin akan setiap langkah yang kujalani... Membuatku tidak ingin jadi penghalang baginya untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya... Membuatku menambah beberapa kalimat dalam doaku... Membuatku semakin bersyukur pada-Nya... Dan membuatku menulis ini dengan kesungguhan hati Aku mencintaimu karena Allah... Tuesday, October 30, 2007 about: musicSemakin banyak lagu yang anda dengar pada suatu rentang waktu, semakin sedikit kenikmatan mendengarkan musik yang anda peroleh – Monang's Fifth Theory of Scarcity Value Tulisan ini salah satunya ditujukan untuk anak temen saya Renee (who bragged a lot about how great her brand new 80GB iPod compared to my 1 year old 4GB nano with regard to the disk capacity. Thanks anyway for accompanying me that time. I'll ask your father to translate this entry for you). Dasar bule! Berhubung cakep dia saya maapin deh. Terima kasih juga buat mas Manteb yang bersedia memegang "janji antar lelaki"-nya. Peringatan Pemerintah : Tulisan ini cukup panjang, penulis tidak bertanggung jawab atas segala efek samping yang muncul. Experience may change during reading. Persiapkan mental anda, secangkir minuman hangat, kotak P3K dan kantung plastik in case anda muntah, dan tomat/telur kalo-kalo anda ingin melempari monitor anda. Tarik nafas dalam-dalam, and say Bismillahirahmaanirahiim. Silakan mulai membaca.
Album-album pertama yang saya denger saya embat dari koleksi sepupu saya. Saya masih inget kisahnya. Waktu berkunjung ke rumah sepupu, saya melihat banyak kaset beraliran musik cadas (rock). Saya ingin tahu mengapa banyak sekali teman yang suka mendengarkan musik barat, yang harga satu albumnya saya rasa cukup mahal (bila dibandingkan dengan album lokal). Apakah memang worth the price, atau cuma ikut-ikutan tren biar dibilang gaul, ataukah memang ada alasan lain. Oleh sepupu saya, saya dikasi pinjem Scorpions-The Best Rocker’s Ballads (mbak Nunung dan mbak Nana, you rocks guys!). Album itu memang bisa dibilang udah tua dibanding Crossroad-nya Bon Jovi atau MLTR pada waktu itu, dan saya masih inget nggak ada temen saya yang tahu/pernah denger album-album tersebut. Biarin deh, dibilang kuno dan nggak gaul juga gak ngepek (nggak ngefek ke saya). Yang penting bisa ngedengerin album gratisan, hehe. Ketika pertama kali mendengarkan The Best Rocker's Ballads, telinga saya langsung bisa merasakan gejolak musik rock yang menghentak dan menggetarkan dada (haha, berlebihan banget yah). Efek metal gitar yang keren, suara pria yang melengking, beat drum yang cepat dan dinamis, langsung terasa catchy. Nuansa panggung rock yang penuh cahaya, ledakan, asap, dan penonton yang berjingkrak dan head-banging terbayang di benak saya. Yap, inilah musik yang bisa menyelamatkan dunia, begitu kata orang.
Kembali ke album (bacanya gak usah pake intonasi ala Tukul yah, udah basi). Satu album itu terus saya putar berulang-ulang saking senengnya, sampai-sampai ada satu lirik lagu (Always Somewhere) yang hafal tanpa melihat cover albumnya. Saya masih inget ada temen yang menyanyikan lagu ini waktu ada tes nyanyi lagu barat untuk mata pelajaran Bahasa Inggris waktu SMP, dan saya ngebantu dia menghafalkan liriknya. Bener-bener aneh deh SMP-ku itu. FYI saya memilih menyanyikan "Happy Birthday" yang disambut ketawa dan cemoohan satu kelas, hehe (secara yang lain lagunya pada keren-keren semua, kaya’ lagu-lagunya Richard Marx atau Bon Jovi). Side story : entah sejak kapan, saya menganggap bagian vokal suatu lagu itu sama seperti alat musik lainnya, jadi udah gak peduli lirik lagu lagi. Saya baru sadar hal ini ketika ada temen yang nanyain arti lagu soundtrack Magic Knight Ray Earth-nya Animetal. Seiring dengan berlalunya masa, waktu itu saya bertanggungjawab atas lalu-lalang kaset/album dari temen-temen saya ke alat pemutar saya. Maklum, nggak punya banyak uang untuk beli banyak album, jadinya ya pinjem sana pinjem sini bajak sana bajak sini. BTW, saat itu membajak lagu dilakukan dengan menggunakan tape-player dual-head. Saya masih inget karena keterbatasan dana untuk hobi terkadang saya mengkopi lagu dari album yang saya pinjam ke kaset bekas. Beberapa album yang mengesankan antara lain adalah Metallica-Black Album, The Best-nya Guns 'n' Roses, Surfing With Alien-nya om Joe Satriani (nemu di studio pas abis nge-band), beberapa album Queen, Dewa 19, dan Slank, What's The Story? Morning Glory-nya Oasis, dan beberapa album yang –maaf– tidak dapat saya sebutkan satu-persatu karena keterbatasan RAM di otak saya. Inti dari beberapa paragraf terakhir ini adalah pengalaman mendengarkan musik yang hanya berupa beberapa album saat itu sangat-sangat mengesankan sekali. Mungkin karena usaha dan pengorbanan yang cukup besar untuk mendengarkan satu lagu atau album saja, alhasil kita sangat puas menikmati hasil usaha kita itu.
Saking boomingnya aktivitas mengkoleksi lagu MP3 waktu itu, di jaringan kampus ada yang membuat mesin pencari khusus MP3. Kalo tidak salah aplikasi itu sampai meng-indeks puluhan ribu lagu yang tersebar di mesin-mesin kampus, mulai dari lagu anak-anak sampai lagu keroncong, mulai dari lagu mellow sampai lagu hoek-hoek (trash metal, yang nyanyi kaya’ orang muntah), mulai dari lagu beraliran etnik sampai lagu beraliran orang-ngomong-terus-ada-musiknya-di-belakang (kaya’ Missy Elliot), mulai dari lagu dengan ukuran 40MB (ok, satu album sih) sampai cuplikan intro Warkop DKI berukuran 100KB (tapi saya nggak tau lagu kontroversial Indonesia Raya-nya om You-Know-Who itu ada atau tidak). Saya masih ingat, hampir setiap PC di lab yang penggunanya menggunakan headset salah satu window browsernya pasti sedang menampilkan aplikasi itu. Saat itu, kaya’nya orang-orang lebih seneng ngumpulin lagu daripada ngedengerinnya. Kalaupun ngedengerin, paling cuma sekali aja karena banyaknya lagu lain yang ngantri didengerin di playlist winamp-nya. Saya pun juga seperti itu, setiap lagu cuma masuk telinga kiri keluar hidung kanan (saking gak berkesannya hingga otak gak nerusin ke telinga kanan, hehe). Alhasil kalau pergi menghabiskan suara ke karaoke, ya cuma nyanyiin sedikit bagian lagu, terus skip ke lagu selanjutnya. Kasian yah yang susah-susah menciptakan dan mengaransemen lagu, secara lagunya cuma digituin doang. Saya pernah baca di suatu artikel majalah musik, bahwa sebenarnya banyak musisi dan produser yang menyesalkan lagunya didengerin dalam bentuk MP3-nya. Bukan karena mudah dibajak saja, tapi juga karena usaha mereka yang berusaha menciptakan musik sesempurna mungkin jadi tercemari karena nature dari MPEG-1 yang merupakan lossy compression method (yang berarti kemungkinan besar akan ada bagian yang hilang pada saat kompresi dari file wav ke MP3). Inti dari beberapa paragraf terakhir ini (dejavu yah) adalah mendengarkan banyak lagu yang kita peroleh secara mudah ini terasa kurang mengesankan, atau bahkan mendekati hambar.
Tanyakan pada diri anda atau teman anda yang pernah punya portable cassete player, portable CD player, dan portable MP3 player, saat-saat mendengarkan mana yang paling mengesankan? Saya yakin portable CD player lah jawabannya. Mengapa? Karena harga CD mahal dan kualitas lagu yang disimpannya paling bagus. Tapi mengapa kebanyakan orang lebih suka membeli portable MP3 player? Karena lebih bentuknya lebih kecil dan compact? Penampilan? Lagunya yang lebih murah? Mengikuti mode? Fungsinya yang bukan hanya sebagai player? (saya jadi teringat kolega kerja saya yang baru beli audio+video player+recorder+kamera+fm radio, sayang korek api gak included) Paragraf di atas terinspirasi dari seorang teman yang berprofesi sambilan sebagai musisi (kalo siang ngemis kalo malem ngamen, hehe becanda), dia masih memakai portable CD player kemana-mana. Tiap kali ditanyain atau disindir, dia selalu jawab "Aku memakai barang hanya karena kegunaannya, dan nggak mau mengorbankan kualitas musik (untuk alasan-alasan di atas)". Keren banget nggak sih? Jadi jika anda bertemu dengan orang yang anda anggap aneh karena memakai headset gede di angkutan umum ato di jalan, bisa jadi orang tersebut "sejenis" dengan teman saya itu. Yah, nampaknya kita sudah sampai pada penghujung cerita saya kali ini. Tetaplah bersama saya untuk menantikan entri selanjutnya (huuuu), dan berdoalah semoga entri berikutnya tidak berbau komputer lagi (huuuu). Terima kasih atas waktunya, dan sampai jumpa! (sok presenter pisaaaan). Labels: music |
|
Cat Stevens said - If you want to sing out, sing out, and if you want to be free, be free, cause there's a million ways to be, you know that there are. - watashi likes... anime, games, Java, watching movies, operating illegal software and music downloads, playing the guitar, reading, football, cats dislikes... pineapples, snakes, Bush, Bill Gates, hypocrites valuable primates MartinFowler JamesGosling RickardOberg GradyBooch JasonHunter SteveJobs CedricBeust BruceTate HaniSulaiman DionAlmaer BruceEckel CarlosWhoever CameronPurdy GrahamGlass BillBurke GavinKing MarcFleury RichardStallman JamesStrachan ErikHatcher CraigMcClanahan MonsonHaefel GuidoVanRossum JimWaldo Joel Spolsky JackShirazi EricRaymond HeinzKabutz
archives 10/2004 other people
Mr. Good Indonesian donation provided by links behind the scene I like grey because it reminds me of the colour of my brain. My brain conjures up funny or useless thoughts to be ranted in this blog/journal.Let them speak This horrible page has been visited for times |
|
theWrittenOne
|
|
-Yet Another Useless Blog-
Random thought, Java, and anything |